Header Ads

Menyimak Cerita Renang dan Hernia Nucleus Pulposus




Sudah 1 tahun lebih saya mempunyai kebiasaan rutin untuk berenang paling sedikit 3 kali seminggu sebelum saya ke kantor. Bukan karena ingin langsing karena saya pikir kalau badan emang sudah bernilai A (Ancur maksud saya) diapakan juga tetap A. Saya renang karena ingin sehat karena saya punya problem dengan syaraf tulang belakang yang menurut literatur dan dokter, obatnya adalah renang. Kalau orang awam menyebutnya sebagai syaraf kejepit, orang Jawa menyebutnya keceklik orang medis menyebutnya HNP, singkatan dari Hernia Nucleus Pulposis.

Suatu kondisi akibatnya bergesernya bantalan antar tulang belakang (vertebral disk) atau keluarnya materi inti akibat robekan dari dinding bantalan yang kemudian mengiritasi syaraf tulang belakang.Keluhan dan gejala tergantung dari lokasi penekanannya dan setingkat mana syaraf yang mengalami penekanan. Menurut statistik, HNP paling sering mengenai ruas tulang pinggang 4 dan 5 (Lumbal 4-5)dan ruang tulang pinggang 5 dengan tulang bokong 1 (Lumbal 5 - Sacrum 1.
Ya, saya pun mengalami penjepitan pada L4-L5 dan L5-S1.Semua berawal ketika saya, bak superwoman, mendorong lemari hanya karena saya ingin merubah ruang tempat anak-anak belajar agar nyaman. Itu kejadian tahun 2005. Karena penekanan kearah kiri maka yang sakit dan terganggu adalah tungkai kiri.Sakitnya minta ampun, saya sampai tidak bisa jalan. Kalau jalan harus menyeret kaki. Duduk adalah kegiatan yang sangat menyiksa saya. Baru 5 menit duduk saya sudah harus berdiri lagi. Jadi kalau sudah harus ke toilet untuk poep saya sudah keringat dingin duluan membayangkan saya harus duduk selama paling sedikit 10 menit, mana toliet itu keras pula dudukannya. Benar-benar tersiksa....
Dua minggu saya menderita tetapi dengan obat dan fisiotherapi akhirnya saya bisa jalan dan pulih. Tahun 2005 itu saya sudah mulai renang juga tapi tidak rutin dan lama-lama tidak renang sama sekali.Akhir 2007, sebagai sekretaris panitia ulang tahun rumah sakit, saya capek sekali dan pada perayaannya saya banyak jalan ke sana ke mari menggunakan sepatu hak tinggi. Padahal itu pantangannya dan semua sepatu kerja saya yang berhak tinggi sudah disingkirkan dari rak berganti sepatu tidak berhak.
Satu minggu sesudahnya, saya yang lagi demen-demennya mengurus tanaman, dengan santainya mengangkat pot tanpa meminta bantuan. Lupa sudah sakit yang dirasakan tahun 2005 lalu.
Esoknya kumat lagi. Dari MRI, penyempitan sekarang ke arah sentral. Makanya keluhan saya rasakan tidak saja di tungkai kiri tapi juga di tungkai kanan.
Kalau dulu gambarannya hanya bulging (menonjol keluar) pada L4-5 dan L5-S1 maka kali ini gambarannya pada L4-5 sudah ada protrusi (keluarnya materi) dan tear (robekan) dari diskus intervertebra.
Alamak...benar-benar parah lah saat itu. Saya merasakan nyeri yang menjalar dari daerah bokong ke mata kaki serta kebas di 3 jari kaki saya (jari tengah, jari manis dan kelingking. Tidak ada kegiatan dan posisi yang nyaman, semuanya membuat nyeri.
Saya sempat dirawat selama 2 minggu, bed rest terus dan "dipasung" lagi dengan traksi. Jadi pinggang saya diikat kuat dengan sabuk dan dihubungkan dengan beban bantal pasir seberat 10 kg yang mengakibatkan sabuk tertarik. Dengan begitu diharapkan ruang antar tulang belakang melebar dan materi yang mengalami penekanan bisa kembali ke posisi semula. Jadi saya hanya tidur terlentang tanpa bisa miring ke kiri atau ke kanan. Minta ampun....Selama berbaring saya hanya bisa berdoa, saya takut sekali lumpuh, saya memikirkan anak-anak yang hanya bergantung pada saya.
Dalam setiap helaan nafas karena sakit saya hanya bisa mengucapkan doa kerahiman Ilahi. Tuhan kasihanilah aku...Tuhan kasihanilah aku..
Tapi itulah ya, seperti makan cabe, hilang pedas lupa juga kita sama rasa pedasnya. Begitu juga saya, 1 minggu sembuh masih masa istirahat di rumah, tangan ini sudah gatal mau main tanah lagi.
Ya udah...kena lagi...opname lagi...
Kali ini benar-benar parah, saat berbaring saya hanya bisa mengangkat kaki saja sekitar 10 cm saja dari tempat tidur. Sakitnya pun semakin menjadi-jadi. Posisi yang sedikit membuat nyaman hanya lah berbaring telungkup.
Dokter syaraf akhirnya mengkonsulkan saya ke dokter bedah syaraf. Oleh dokter bedah syaraf dianjurkan operasi jika dalam waktu 2 minggu tidak ada perbaikan.
Kali ini saya benar-benar down, apalagi mendengar bahwa saya harus dioperasi.
Kalau memikirkan sakitnya, rasanya memang ingin cepat-cepat saja dioperasi agar sakitnya hilang.
Tapi beberapa teman sejawat menyarankan agar tidak usah operasi karena resikonya juga besar. Saya sempat dilanda kebingungan apalagi keluarga juga tidak mendukung saya untuk dioperasi.Untunglah seorang teman dokter fisiotherapi memberi saya support dengan memberi artikel-artikel yang menyatakan bahwa tidak semua HNP harus dioperasi.
Di hari dead line apakah mau operasi atau tidak saya masih belum bisa jalan tapi pagi itu saya ingin pergi berenang dulu. Pergi berenang saya tertarih-tatih pulang renang saya sudah bisa berjalan dengan lebih baik. Saya pikir ini pertanda baik.
Akhirnya saya putuskan untuk mencari second opinion ke Singapura. Saat itu saya tetapkan hati bahwa apapun yang disarankan dokter di sana akan saya laksanakan termasuk kalau operasi.
Akhirnya dari dokter bedah syaraf di Mount Elisabeth saya disarankan hanya berenang saja, tidak usah operasi, penekanan pada syaraf akibat HNP tidak seberapa parah.
Ya sudah saya kembali ke Medan dengan keyakinan saya pasti sembuh dengan renang.
Sejak itu saya mulai renang dan kali ini saya benar-benar komit untuk berenang terus, minimal 3 kali seminggu.
Hasilnya memang benar-benar baik meski tidak secara drastis.
Sampai sekarang sudah setahun lebih saya rutin renang.
Karena waktu yang terbatas, hanya satu jam mulai dari datang sampai keluar dari komplek kolam untuk bekerja, saya merasa harus benar-benar menggunakan waktu yang ada dengan baik.
Saat ini saya sudah bisa renang non stop selama setengah jam atau paling lama 45 menit. Awal-awal saya hanya mencoba 1 kali putaran, lalu saya tingkatkan perlahan-lahan hingga akhirnya bisa seperti sekarang.
Memang belum apa-apa tetapi bagi saya itu sudah jauh lebih baik.
Dan memang saya jadi ketagihan dengan renang. rasanya kalau tidak renang badan menjadi kaku dan malah mudah lelah.
Tadinya saya khawatir kalau saya renang sebelum ngantor, saya di kantor akan kecapekan dan mengantuk. Tetapi kenyataannya tidak. Malah kalau saya tidak renang, habis makan siang saya sudah kehilangan energi, bawaan mau tidur saja.
Menurut seorang dokter jantung, renang adalah olah raga yang paling baik untuk jantung dan juga sendi. Karena renang tidak memberi beban pada sendi olah raga ini lah yang paling bisa dilakukan hingga usia tua, dibandingkan olah raga lain.
Ya akhirnya saya yakin renang memang cocok untuk saya.
Di kolam renang Hotel Danau Toba tempat saya renang, banyak sekali saya bertemu dengan ibu-ibu yang berusia di atas 45 tahun umumnya juga punya keluhan yang sama meski tidak separah saya dan keluhan lain di lutut. Tetapi mereka mengakui bahwa renang memang membuat keluhan sakit banyak berkurang.
Memang secara statistik 3 dari 5 orang pernah menderita sakit pinggang dan 60% darinya adalah karena HNP.
Sebenarnya HNP bisa dicegah dengan memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Melakukan latihan-latihan untuk mengencangkan otot perut untuk memberikan stabilitas yang lebih baik bagi tulang belakang, seperti renang, bersepeda statis dan berjalan ringan.
2. Gunakan teknik yang baik dalam mengangkat dan bergerak, seperti berjongkok saat akan mengangkat barang yang berat. Jangan membungkung dan mengangkat. Minta bantuan jika benda yang mau diangkat terlalu berat. Dekatkan benda yang diangkat ke arah dada
3. Perhatikan posisi duduk dan berdiri yang benar. Tidak duduk dengan bokong hanya menyentuh ujung kursi tapi letakkan seluruh bokong dengan punggung menyentuh sandaran kursi. Jangan duduk berselonjor karena akan memberi beban pada tulang punggung
4. Berhenti merokok. Merokok merupakan faktor resiko untuk artherosclerosis (pengapuran pembuluh darah) yang dapat menyebabkan sakit pinggang dan gangguan degeneratif pada tulang belakang.
5. Hindari stress, karena akan menyebabkan kejang pada otot-otot.
6. Pertahankan berat badan yang sehat. kelebihan berat badan pada daerah perut akan menyebabkan beban bagi tulang belakang.
Bagi pasien-pasien yang saya temui di rumah sakit maupun di praktek,saya lah contoh kasus bahwa HNP tidak selalu harus dioperasi. Dan saya selalu mengkampanyekan renang untuk kesehatan tulang belakang dan lutut.
Tapi diatas semua itu saya berterima kasih pada Tuhan bahwa saya akhirnya diberi kesembuhan. Rasanya tidak bisa dipercaya bahwa dari tidak bisa jalan akhirnya saya bisa berjalan dan beraktivitas lagi dan sekarang renang 40 menit nonstop.

---read-1---

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.