Sejarah Renang di Indonesia

Posted by



sejarah renang di indonesia
Kursus Renang Bandung kali ini akan membahas tentang Sejarah Renang di Indonesia. 
Di Indonesia sendiri olah raga renang telah ada sejak tahun 1904. ”Kolam renang yang pertama kali didirikan di Indonesia adalah Kolam Renang Cihampelas di Bandung pada tahun 1904” (Abdoellah, 1981: 271). Sesudah itu mulai dibangun kolam renang Cikini dan Brantas. Pada tahun 1917 yaitu pada zaman Hindia Belanda kegiatan olahraga renang mulai dilaksanakn di Bandung dan terbentuk suatu peserikan renang (Bandungse Zwembond) yang beranggotakan tujuh perkumpulan diantaranya Osvia, Mulo, dan Kweekschool. Sesudah itu terbentuklah perserikatan-perserikatan olahraga renang di daerah lain seperti di Jakarta dan Surabaya. (Baca: Sejarah Renang Internasional)
Menurut keterangan pada tanggal 18 April 1924 di Pasuruan didirikan N.I.Z.B (Nederlands Indische Zwembond) dengan beranggotakan tiga kota yaitu Pasuruan, Bandung, dan Surabaya. Kemudian Pada tahun 1925 berdirilah Perserikatan Renang Jawa Barat (West Java Zwembond). Pada tahun ini hubungan dengan luar negri sudah ada, karena pada tahun ini juara dunia gaya bebas Arne Borg yang berkebangsaan Swedia telah datang ke Indonesia dan memberikan demonstrasi teknik gerakann renang. Selain Arne Borg perenang-perenang dan peloncat indah dari Prancis yaitu Jen Teris dan Emilie Paussard datang ke Indonesia dan memberikan demontrasi. Kemudian pada tahun 1927 berdirilah Perserikatan Renang Jawa Timur (Oost Java Zwembond) dengan beranggotakan kota Surabaya, Malang, Pasuruan, Blitar, Lumajang, Semarang, Yogyakarta, dan Cepu. Pada waktu itulah sering sekali mengadakan kejuaraan di level antar kota, antar daerah, maupun nasional.
Pada tahun 1930 mulai didirikan kolam renang yang modern misalnya Kolam Renang Manggarai di Jakarta dan Kolam Renang Tegalsari di Surabaya. Sebelum tahun 1945 olahraga renang di Indonesia hanya dilakukan oleh orang-orang kulit putih, karena hampir seluruh kolam renang pada waktu itu milik orang kulit putih. Memang pada waktu itu olah raga renang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja seperti para bangsawan, dan orang belanda. Ada satu kolam renang yang dibuka untuk umum tetapi harga tiket masuknya sedemikian mahal, sehingga orang-orang pribumi tidak mampu untuk membayarnya. Namun, Pada waktu Indonesia diduduki Bangsa Jepang kesempatan olahraga renang untuk umum sudah lebih besar dan berkembang. Semua kolam renang di Indonesia dibuka untuk umum, yang sebelumnya hanya diperuntukan untuk orang kulit putih saja. Kegiatan olahraga renang pada tahun 1945 sepi lagi karena bangsa Indonesia sedang perang untuk mempersiapkan kemerdekaan.
Pada tahun 1951 didirikanlah PBSI (Perserikatan Renang Seluruh Indonesia) yang diketuai oleh Dr. Poerwosoedarmo. Pada tahun ini pimpinan renang Indonesia masih dipegang olah ZBVI (Zwembond Voor Indonesia). Setelah itu perkembangan renang di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat. PBSI diterima menjadi anggota PORI (Perserikatan Olahrga Republik Indonesia). Dan Pada tahun 1952 PBSI diterima menjadi anggota FINA dan IOC. Sejak itu perkumpulan-perkumpulan renang tumbuh banyak antara lain Tirta Kencana di Jakarta, Tirta Mitra di Surabaya, Tirta Merta di Bandung, dan Prim di Medan. Pada tahun ini, Indonesia telah mengirim Soeharko, perenang 200 meter gaya dada. Kemudian pada tahun 1953 ia dikirim ke Youth Festival di Bukares.
Pada tahun 1954 di Indoensia telah ada sebanyak 29 perkumpulan renang. Pada tahun ini regu perenang Indonesia berangkat ke Asian games ke II di Manila. Mulai tahun 1955 PBSI mulai menyusun suatu daftar rekor yang berbentuk nasional, pemegang rekor harus warga negara Indonesia. Pada tahun ini dikirim regu renang kita ke Singapura yang telah membawa hasil yang memuaskan, banyak rekor-rekor Indonesia dan Singapura yang ditumbangkan pada waktu itu.
Pada tahun 1956 di Yogyakarta didirikan kolam renang modern dalam rangka Colombo Plan. Menurut doesn FPOK UPI, Badruzaman (2007: 25) mengemukakan bahwa: ”Pada tahun 1956 nama perserikatan renang dirubah yang tadinya PBSI menjadi PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia), hal ini dimaksudkan supaya tidak sama dengan perkumpulan Bulutangkis dengan nama PBSI.” Pada Olympiade Melbourne tahun 1956 Indonesia mengirim tiga perenang, yaitu Ria Tobing untuk 200 meter gaya dada puteri, Martha Gultom untuk 100 meter gaya punggung puteri, dan Habib Nasution untuk 100 meter dan 400 meter gaya bebas putera.
Kemudian pada tahun 1957 di Makassar dibuat juga kolam renang modern untuk Pekan Olahraga Nasional yang ke IV. Menurut Abdoellah (1981: 273) bahwa : ”Pada PON ke IV di Makasar pada tahun 1957 nama Perserikatan Berenang Seluruh Indonesia (PBSI) dirubah menjadi PRSI atau Persatuan Renang Seluruh Indonesia.” Lalu Pada tahun 1958 Indonesia mengirimkan regu perenangnya ke Asian Games ke III di Tokyo.
Pada tahun 1962 pada Asian Games yang ke IV di Indonesia, prestasi renang Indonesia mengalami kemajuan pesat dengan munculnya perenang-perenang seperti Achmad Dimjati untuk 100 meter dan 200 meter gaya bebas, Mohammad Sukri untuk 100 meter dan 200 meter daya dada.
Pada tahun 1965 terjadi pemberontakan G.30 S PKI mulai tahun 1965-1967 prestasi renang di Indonesia mengalami kemunduran. Mulai tahun 1969 pada saat PON ke VII munculah perenang-perenang muda seperti Inca Kumala dan Tjiam Ay Lan. Pada tahun 1970 PRSI memiliki program yaitu dengan mengadakan age group atau kelompok umur. Kejuaraan kelompok umur yang pertama kali diadakan bertempat di Jakarta. Menurut Abdoellah (1981:274) mengemukakan bahwa:
Pada tahun 1970 PRSI membagi kelompok umur terdiri dari: (1) Kelompok umur I putera dan puteri umur 10 tahun dan dibawahnya; (2) Kelompok umur II putera dan puteri antara umur 11-12 tahun; (2) Kelompok umur III putera dan puteri antara umur 11-12 tahun; dan (4) Kelompok umur IV putera dan puteri antara umur 15-17 tahun.
Pembagian kelompok umur pada tahun 1972 mengalami perubahan yaitu dengan membalik kelompok I menjadi kelompok umur IV, kelompok umur II menjadi III. Terkait tentang keterangan di atas, Abdoellah (1981: 274), mengemukakan bahwa: 
Apabila ditinjau dari tingkat sekolah dapat digambarkan sebagai berikut: Kelompok IV (sampai umur 10 tahun) dan kelompok umur III (11 tahun sampai dengan 12 tahun) adalah tingkatan Sekolah Dasar. Kelompok Umur II (13 tahun sampai dengan 14 tahun) kurang lebih tingkatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Kelompok umur I (15 tahun sampai dengan 17 tahun) kurang lebih tingakatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.
Sedangkan untuk mereka yang berumur 18 tahun ke atas, kurang lebih tingkatan perguruan tinggi, tidak dapat mengikuti kejuaraan berdasarkan age group, tetapi mereka bisa mengikuti pada pertandingan-pertangingan pada Pekan Olahraga Mahasiswa, Pekan Olahraga Nasional, maupun pada kejuaraan renang nasional.
Itulah sepintas tentang sejarah renang, dimana dapat kita ketahui bahwa renang telah ada sejak jaman dahulu dan sampai sekarang sudah kita kenal sebagai cabang olah raga yang populer di masyarakat Indonesia karena dirasakan banyak manfaatnya selain untuk olahraga prestasi juga untuk pendidikan, rekreas, terapi, dan lain sebagainya. Demikian tentang Sejarah Renang di Indonesia. Diinfokan oleh Kursus Renang Bandung. Semoga bermanfaat.
---Read-1--- CP: 081322806112, Pin BB: 290904d6


Blog, Updated at: 15.06

0 komentar:

Posting Komentar